Sejarah Negeri Administratif Nuweletetu
MAREHUNU DAN PERJALANANNYA
Marehunu adalah Penduduk Asli Pulau Seram yang mulanya dari Nunusaku. Ketika keluar dari "Nunusaku" mereka berjalan menyusuri hutan belantara menuju ke arah barat Pulau Seram dan tiba diwilayah hulu sungai "TALA". Sungai Tala ditempat ini mereka tinggal dalam waktu yang lama, hingga ditempat ini pula mereka mendirikan pemerintahan secara adat dengan pemimpin yang terpilih saat itu yang bernama " LATU KAKELETE". Setelah LATU KAKELETE terpilih sebagai pemimpin, maka tempat yang mereka bermukim LATU KAKELETE memberi nama MAREHUNU yang memiliki arti" Mari Hunus / Bunuh".
Saat itulah nama MAREHUNU dipakai sebagai Nama Negeri, sekaligus nama suku besar masyarakat Asli Pulau Seram yang Keluar dari NUNUSAKU dan bermukim diwilayah hulu sungai TALA. Sejak itu pulah Marehunu sudah memiliki pemerintahan sendiri secara adat dan Punya Rumah Adat yang bernama BAELEO "IULLE": artinya tempat yang aman untuk bermusyawara, dengan lambang negeri "SOLE" Artinya Gadihu Hutan. Marehunu memimiliki budaya sendiri dengan tari-tarian yang dipergunakan dalam upacara-upacara adat seperti tarian TOTIA (Maku Maku), MANO MANU MANUE (Cakalele) dan MAINORO (Syair Lepas Senja dengan Bahasa Daerah). Penduduk Marehunu hidup bercocok tanam dan berburuh sebagai mata pencaharian mereka, oleh karena itu penduduk Marehunu hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Marehunu yang adalah penduduk asli Pulau Seram yang turun dari Nunusaku terdiri dari Marga :
1. KOKORULE
2. MAALALU
3. TUNUHURI
4. YAHUMOTO
5. KAKELETE
6. LASAULUI
7. TITASINAI
8. LUMASUANE
9. SOLOWONO
10. TAHAYASU
11. RUMAHMANAWA ( MAALALU HITAM)
12. RUMAHWATINE
13. RUMATUNI
14. TALAPSUNE
Sejarah mencatat bahwa kejayaan "Marehunu" dibawah kepemimpinan LATU KAKELETE sangat kuat dan terkenal juga disegani.
LATU KAKELETE adalah pemimpin yang berkarisma, memiliki Lidah yang Berbuluh sehingga dijuluki "MEIMA EINE PALUA"selain berkarisma disatu sisi LATU KAKELETE pemimpin yang sangat kejam hingga apapun keinginannya harus dipenuhi, seperti makanan sehari-hari LATU KAKELETE adalah Telur Kura-Kura (KEKENU EKUNE), Tali Perut Kasuwari (ASAWALY ETIYAI) minumanyan Air Pinang Putih Mudah (PUA KUTI WAILE) yang diperas untuk diambil airnya, Air Mandinya Batang Gelobak (ULI PETAI) ditumbuk dan diperas airnya. Alasan LATU KAKELETE memandi air Batang Gelobak dikarenakan tubuhnya yang berkulit dua (ILUTI WAKASALE) Kaskado istilah sekarang.
Karisma dan Keperkasaan yang dimiliki LATU KAKELETE, maka ia memerintahkan penduduk Marehunu membuat kebun padi ladang, ketika di saat panen tiba rakyat diperintahkan supaya padi yang dipanen, dipetik bulir per bulir pekerjaan ini berlangsung setiap hari tampa mengenal waktu istirahat. Hal ini menyebabkan Masyarakat Marehunu tidak puas, marah dan akhirnya memberontak terhadap LATU KAKELETE yang adalah pemimpin mereka dengan merusak ladang padi, tanaman padi dipukuli dengan menggunakan kayu hingga rusak seluruh tanaman. Peristiwa ini membuat masyarakat lari meninggalkan Marehunu.
dengan mangangkat nyanyian
- SILIA AREA IHALIA IHALIA IHALIA ..........O
- IHALIA SUE SOU ………O
Yang artinya Kami Orang-Orang Marehunu Silia Area yang Gagah Perkasah Kalau Berbicara dan Mengambil Keputusan Hanya Satu Kali Saja.
MAREHUNU TERPECAH DAN BERPISAH
Penduduk Marehunu yang lari setelah berontak terhadap LATU KAKELETE mereka berjalan kearah selatan Pulau Seram dan sampai di Wilayah Hulu sungai "MALA", disitu mereka tinggal, dan ditempat ini mereka kembali sepakat untuk bermusyawarah menentukan siapa pemimpin mereka, dari hasil musyawarah "SAKALE KOKORULE" terpilih sebagai pemimpin mereka.
Dengan demikian tempat yang mereka tinggal di wilayah hulu sungai "MALA" diberi nama "SOUNUNUE" artinya Pohon Beringin tempat musyawarah. Masyarakat Marehunu yang mendiami Negeri "SOUNUNUE" dijuluki orang-orang (SILIA AREA) atau orang-orang yang Gagah Perkasah. Masyarakat Marehunu Silia Area dibawah kepemimpinan Kapitang "SAKALE KOKORULE" yang mendiami Negeri Soununuwe adalah Marga:
1. KOKORULE
2. MAALALU
3. TUNUHURI
4. YAHUMOTO
5. LASAULI
6. TITASINAI
7. LUMASUANE
8. RUMATUNI
9. RUMAHWATINE
10. SOLOWONO
Sedangkan masyarakat Marehunu yang tetap memilih untuk tetap berada dibawah kepemimpinan LATU KAKELETE adalah marga :
1. TALAPASUNE
2. TUNUHURI
3. KAKELETE
4. YAHUMOTO
5. TAHAYASU
6. RUMAHMANAW ( MAALALU HITAM )
7. RUMAHWATINE
8. RUMAHSUANE
Sampai sekarang mereka bermukim di utara Pulau Seram yaitu Negeri LATEA sampai sekarang. Masyarakat Marehunu "Silia Area" yang meninggalkan LATU KAKELETE dan tinggal di Soununue dibawah kepemimpinan SAKALE KOKORULE mereka keluar dengan membawa kebesaran dan kekuatan Marehunu seperti Lamabang Negeri "SOLE" (Gadihu Hutan) Rumah Adat/Baeleo Yaitu "BAELEO IULLE" dan Teong Negeri "MAREHUNU".
Dinegeri SOUNUNUE dibawah kepemimpinan Kapitang SAKALE KOKORULE Masyarakat Silia Area tinggal dalam kurung waktu puluhan tahun dinegeri Soununue, mereka hidup dengan berburuh dan bercocok tanam serta mengembangkan keturunan.
PERANG MAREHUNU SILIA AREA
DENGAN KESULTANAN SAHULAUW
Pokok Persoalan: Ubi Merah (ΜΑΚΙΝΑ)
Ubi Merah (MAKINA) merupakan makanan pokok masyarakat Marehunu Silia Area yang bermukim di negeri Soununue.
Pada suatu ketika perempuan Marehunu Silia Area dari Soununue akan ke kebun, hingga ia menitipkan anaknya kepada seorang perempuan Sahulauw yang adalah sahabatnya dengan menitipkan seisi Ubi Merah untuk bekal anaknya. Namun pada saat itu tanaman Ubi Merah belum ada di Sahulauw, akhirnya perempuan Sahulauw menyimpan Ubi Merah itu untuk dijadikan Bibit dan memberikan makanan lain kepada anak sahabatnya. Ubi Merah yang dijadikan bibit kemudian ditanam, dalam berjalannya waktu Ubi Merah berkembang dan banyak di Sahulauw.
Ketika Perempuan-perempuan Marehunu Silia Area dari Soununue pergi ke kali dekat Sahulauw untuk membersihkan Ubi Merah, dikali sahulauw ini Perempuan-perempuan Sahulauw mengejek Perempuan-perempuan Soununuwe dengan mengatakan Ubi Merah yang dibersikan dikali itu hasil curian dari Ubi Merah milik Mereka, kemudian dibantah oleh Perempuan-perempuan Soununue bahwa Ubi Merah yang berada di Sahulauw itu berasal dari Soununue. Perang Saraf pun terjadi antara kedua belah pihak, kali dekat Sahulauw tempat mereka bertengkar di beri nama MAKINA (Ubi Merah) sampai sekarang ini.
Dalam pertengkaran Aduh Mulut, Kata Pencuri terlanjut dilontarkan/diucapkan oleh Perempuan-perempuan Sahulauw, sedangkan kata Suanggi dan Pencuri bagi masyarakat Marehunu Silia Area adalah kata yang memalukan dan menjatuhkan martabat dan harga diri, oleh karena itu kata Pencuri ditanggapi dengan serius pihak Laki-laki Soununue. Perangpun tak terhindari masyarakan Marehunu Silia Area dibawah Kepemimpinan Kapitang SAKALE KOKORULE dari Soununue menyerang Kesultanan Sahulauw.
Penyerangan pertama Kapitang SAKALE KOKORULE dan pasukannya tidak berhasil menembus pertahanan Sahulauw. dari hasil pengintaian diketahui bahwa yang menjadi sumber kekuatan Kesultanan Sahulauw adalah Pohon Kelapa Keramat mereka.
Pada penyerangan Kedua dengan srategi, sebelum fajar Kapitang SAKALE KOKORULE dan Pasukannya memotong putus kelapa keramat Sahulauw.
Setelah fajar, Sahulauw di serang Habis-habisan oleh pasukan Marehunu Silia Area pimpinan SAKALE KOKORULE, Sultan Sahulauw yang bernama "LAODE MUNA" akhirnya melarikan diri dari kota "TELINE" Sahulauw ke tanjung "SIAL" Pulau Saparua menggunakan Rakit. Perang berakhir Sahulauw kalah, maka Sultan Sahulauw LAODE MUNA meminta berdamai dengan Marehunu Silia Area Pimpinan SAKALE KOKORULE. Sebagai ikatan perdamaian, Sahulauw berjanji memberi lima mata rumah kepada Marehunu Silia Area di Soununue. Namun tidak Terealiasasi sampai sekarang (Sahulauw masih berhutang)
Sejarah membuktikan, Keperkasahan Marehunu Silia Area dalam perang melawan Sahulauw, dengan memotong putus kelapa keramat Sahulauw, maka masyaraka Marehunu Silia Area yang berdiam di Negeri Soununue dibawah kepemimpinan SAKALE KOKORULE (Kapitang I)
Mereka sepakat mengganti nama SILIA AREA menjadi "NUWELETETU MAREHUNU" yang memiliki arti:
- NUWELE ( KELAPA )
- TETU ( POTONG PUTUS )
Kemudian masyarakat Nuweletetu Marehunu dari Negeri Soununue dibawa kepemimpinan SAKALE KOKORULE mereka berpindah tempat dengan berjalan melintasi tempat yang bernama "WANASULAMANAHITU TELAMENASULAHITU" Artinya Tujuh Mata Air Tujuh Pancuran, dan tiba ditempat yang bernama "PATAULATUETI" artinya Tuer Mintanggur.
Di "Pataulatueti" Kapitang SAKALE KOKORULE meninggal dunia. SAKALE mempunyai Dua Putera yakni:
- SAITE KOKORULE
- SAPUNE KOKORULE
Sebagai Anak Sulung SAITE KOKORULE ditunjuk menggantikan SAKALE Ayahnya yang meniggal dunia.
SAITE DAN SAPUNE BERPISAH
Atas dasar Jabatan dan Kekuasaan sebagai Kapitang SAITE KOKORULE menginstruksikan/memerintahkan adiknya SAPUNE KOKORULE untuk:
- Menjaga dan mengawasi wilayah Kapitang SAITE yaitu dari sungai PIA sampai ke sungai NUA dan.
- SAPUNE KOKORULE diberikan hak milik dan kekuasaan dari Sungai PIA sampai ke Sungai NARI. Hanya untuk membagi
wilayah SAITE Relah berpisah dengan adiknya SAPUNE. Untuk melaksakan perintah Kapitang SAITE KOKORULE selaku pemimpin, maka SAPUNE KOKORULE dengan sebagian masyarakat Nuweletetu Marehunu turun ke selatan Pulau Seram menyusuri hilir sungai Pia dan mereka tiba ditempat yang bernama "PAGAR BATU".
Penduduk yang mengikuti SAPUNE KOKORULE terdiri dari Marga:
1. TITASINAI
2. KOKORULE
3. SOLOWONO
4. RUMAHTUNY
5. LUMAWATINE
Masyarakat Nuweletetu Marehunu dibawah Pimpinan SAPUNE KOKORULE yang bermukim ditempat yang bernama Pagar Batu, kemudian SAPUNE menganti nama menjadi "RUMAHSOSALE" artinya Rumah Tempat Tinggal.
Tsunami Pulau Seram
Dalam perjalanan waktu, tepat pada tanggal 29 September 1899 terjadi Sunami Pulau Seram, Negeri Rumahsosale tertimpah bencana, seluruh penduduk meninggal, hanya tersisa 4 (Empat) kepala Keluarga, karena ketika bencana mereka berada di "YAMALESI" sedang memangkul sagu.
Kini sisa penduduk Rumahsosale Pimpinan SAPUNE KOKORULE beridiam di Negeri Waraka yang dikenal dengan Rumahsosal, terdiri dari marga:
1. RUMAHTUNI
2. RUMAHWATINE
3. TITASINAΙ
4. SOLOWONO
Bekas perkampungan Rumahsosale ditepi hilir sungai Pia diantara Negeri Waraka dan Negeri Makariki sekarang. Setelah melepas SAPUNE KOKORULE dan Masyarakatnya, SAITE KOKORULE bersama masyarakat Neweletetu Marehunu berjalan kearah Timur Pulau Seram, mereka terdiri dari Marga:
1. KOKORULE
2. MAALALU
3. TUNUHURI
4. YAHUMOTO
5. LASAULUI
6. LUMASUANE
Sejarah selalu berbicara ketika dalam perjalanan SAITE KOKOROLE dengan Masyarakatnya bertemu marga LERNAYA, TOPSELA dan HALATU tempat petemuan mereka bernama "HALITAYA".
Bukti pertemuan dengan Kapata:
- PIRA SOUNUNUE
- SILI AWAKE WAKE AMAHEI ... O
Artinya kami orang Nuweletetu Marehunu bertemu dengan orang Amahei marga Lernaya, Topsela dan Halatu di Halitaya dan kami angkat Pelah Gandong dan berbatasan dengan orang Amahei.
Marga LERNAYA, TOPSELA dan HALATU kini berdiam di Negeri Amahei.
NUWELETETU-MAREHUNU
BERPERANG DENGAN HURALE
Kemudian SAITE KOKORULE dan rakyatnya melanjutkan perjalanan dan tiba di "SUNEMARELEKUTI" (Sukun dan Kusu Putih)
Ketika berada ditempat ini Nuweletetu Marehunu pimpinan SAITE KOKORULE berperang melawan Negeri "HURALE" merebut wilayah Lumute, SAITE menang perang. Kemenangan Nuweletetu Marehunu pimpinan SAITE KOKORULE membuat Negeri Hurale mengangkat perdamaian dengan Nuweletetu Marehunu. Isi kesepakatan perdamaian adalah membagi wilayah yang sudah di buat oleh alam yang saat ini dikenal dengan Pintuh Angin. Jadi wilayah Utara Pintu Angin adalah milik Negeri Hurale, Sedangkan bagian selatan milik negeri nuweletetu Marehunu dan dibuktikan dengan syair adat.
- LATONE PATAE ESANASA LUMUTE
- ESANASA LUMUTE YAMILUATUE PAKE YANELESA...O
Artinya:
- Lumute Sana Sini Penuh Deangan Buah Pohon Lasat
- Kami Dua Duduk Makan Bersama.
Lumute bukan milik Siapa-siapa! tetapi milik Nuweletetu Marehunu dengan berperang. Bukti hingga saat ini Dusun Sagu milik Nuweletetu Marehunu di Sunemarelekuti masih ada sebagai Saksi Bisu. Di Sunemarelekuti SAITE KOKORULE dan Rakyatnya tingal + & Tahun, setelah itu mereka berpindah ke tempat yang bernama "KATAPATOA" artinya Air Yang Keluar dari Celah Batu.
NUWELETETU-MAREHUNU
BERPERANG DENGAN NUAULU SOUNAWE AIPURA
Ketika tinggal di Katapatoa Nuweleteutu Marehunu dibawah Pimpinan SAITE KOKORULE berperang lagi dengan NUAULU SOUNAWE AIPURA dan menduduki Wilayah "AIPURA" dan ditempat ini mereka tinggal. Rasa tidak puas dalam kekalahan perang, maka Kapitang Sounawe Aipura yang bernama POKI SOUNAWE AIPURA memutuskan untuk kembali menyerang Nuweletetu Marehunu dengan memanggil semua marga Nuaulu yang ada pada saat itu yakni Marga:
1. KAMAMA
2. SOUMORI
3. SOPALAN
4. LEPARI
5. MATOKE
6. MATOPE
7. PERISA
8. SOUNAWE AINAKAHA
Setelah mereka berkumpul, namun pasukan mereka tidak dapat menandingi kekuatan pasukan Nuweletetu Marehunu Pimpinan SAITE KOKORULE. Akhirnya Kapitang Sounawe Aipura yang bernama POKI mengambil keputusan untuk berdamai dengan Nuweletetu Marehunu Pimpinan SAITE KOKORULE.
Bukti dua bahan yang digunakan saat perdaimaian adalah:
-
Ranting Pohon Beringin dan
-
Ranting Pohon Bambu.
Sebagai saksi bisu kedua Ranting itu dipegang oleh Kapitang SAITE KOKORULE dan Kapitang POKI SOUNAWE AIPURA sambil mengucapkan sumpah:
-
Bahwa Nuweletetu Marehunu tidak lagi perperang melawan Nuaulu.
-
Nuaulu juga tidak lagi berperang melawan Nuweletetu Marehunu
-
Siapa yang melanggar sumpah ini keturunannya akan gugur seperti Daun Beringin dan Daun Bambu.
Setelah selesai menggelar sumpah kedua Kapitang SAITE KOKORULE dan Kapitang POKI SOUNAWE AIPURA membagi Wilayah Kekuasaan Yaitu:
-
Sebelah Timur Sungai NUA Milik Kekuasaan Nuaulu
-
Sebelah Barat Sungai NUA Milik Kekuasaan Nuweletetu Marehunu
Status kepemilikan tetap berlaku sampai sekarang.
Pembagian Wilayah di Buktikan dengan Syair dengan bahasa Nuaulu:
# SIPU SAMARIA NUAREMA OTA
# YAMIRUA SIHOTUE OITELA
Artinya:
# Kami Dua Sama-sama Pakai Mahkota
# Kami Dua Berperang
# Kami Dua Menaruh Batas Wilayah
# Dan Selesai.
Dengan Syair Adat Nuweletetu Marehunu:
# NUWELETETU IHALIA..... O IHALIA. O
# IHALIA SUE SOU.....O
Artinya:
Kami Orang Nuweletetu Marehunu Kalau Berbicara Dan Mengambil Keputusan Hanya Satu Kali Saja.
Kemudian Nuaulu membuat perjalanan menuju tempat yang bernama "WATANE" + 100 Meter dari Negeri Sepa Sekarang sedangkan Nuweletetu Marehunu melanjutkan perjalanan ketempat yang bernama "YAMALESI" artinya Saya Tidak Mau Tahu Dengan Siapa-siapa. Jarak Yamalesi ke pantai ± 3 KM (3000 Meter).
Di Yamalesi masyarakat Nuweletetu Marehunu tinggal pada masa kepemimpinan "SAITE KOKORULE" saat itu, datang seorang Moyang dari Sepa yang bernama "ZAKARIA ZAKALAU WENO". Yang mempunyai keinginan untuk menjalin hubungan persaudaraan (LALATO) dengan "NUWELETETU MAREHUNU". Masa kejayaan "NUWELETETU MAREHUNU", kapitangnya tidak bisa ditemui oleh orang dari luar. Maka untuk menyampaikan keinginan-nya, moyang Sepa "ZAKARIA ZAKALAU WENO" menggunakan pengantara yang bernama "LASIATA" seorang pengintai dari "KAPITANG SAITE KOKORULE". Pertemuan keduanya lewat kode panggilan Anjing mereka dari jarak yang jauh hingga mereka bertemu. " LASIATA" mempunyai Anjing yang bernama " MAATITA" artinya Tukan Bajalan. "ZAKARIA ZAKALAU WENO" punya Anjing bernama " SIWALETE" artinya di darat di laut tidak bisa mati. Dari hasil pertemuan mereka dua, maka datanglah tua tua adat Negeri Sepa untuk menemui "NUWELETETU MAREHUNU" pimpinan "SAITE KOKORULE".
Dalam hasil pertemuan "NUWELETETU MAREHUNU" menerima tawaran Sepa untuk menjalin hubungan persaudaraan. maka mereka sepakat mengikat persaudaraan lewat sebuah sumpah. Ketika sumpah akan digelar Sepa menghadirkan Nuaulu dan Ileri. Bahan yang dipakai dalam menggelar sumpah adalah tiga utas tali Gemutu dan satu buah paku, sambil mereka mengucapkan:
-
Paku Mamoloru Lahihanamasaru (Bahasa Sepa)
-
Lapu Hanamasaya Paku Mamola (Bahasa Nuweletetu Marehunu)
-
Paku Nahue (Bahasa Nuaulu)
-
Ileri hanya menghadiri saat gelar sumpah, tetapi dia tetap terlibat dalam sumpah tersebut.
Artinya, bahwa persaudaraan Empat Negeri diikat mati seperti tali gemutu diikat pada paku dan dipaku pada pohon kayu besi, dan siapa yang melanggar, merombak atau keluar dari sumpah ini, resikonya di tanggung sendiri.
Sumpah Empat Negeri pada saat itu dikenal dengan ikatan Empat Negeri, yakni :
-
Nuweletetu Marehunu
-
Nuaulu (NUAHATAN)
-
Sepa (LALATO)
-
Ileri (NUSATAUN)
Tujuan sumpah Empat Negeri, bukan untuk saling menguasai, tetapi untuk makan PASURI" (bersama) tanah-tanah yang ditinggalkan, sekalipun berada dalam petuanan salah satu Negeri, dan sama - sama bertanggung jawab menghadapi pemilik - pemilik tanah bila mana mereka kembali, seperti tanah milik:
-
Titaway
-
Noloth
-
Kaibobo
-
Rohomoni
-
Ullath
-
Kabauw
-
Ouw
Negeri - Negeri tersebut sekarang berada/mendiami Kepulawan Lease. Kalau mau dilihat secara teliti sumpah Empat Negeri ini ada Negeri yang sudah melanggarnya, tetapi sumpah tetap sumpah bahwa siapa yang melanggar resiko tanggung sendiri, sesuai ikatan sumpah. Setelah selesai menggelar Sumpah 4 (Empat) Negeri SAITE KOKORULE meninggal dunia di Yamalesi. SAITE KOKORULE diganti oleh anaknya yang bernama INANE KOKORULE (Kapitang III) Nuweletetu Marehunu.
Dimasah kepemimpinan Kapitang INANE KOKORULE datanglah pemerintah Belanda yang diwakili Tuan VAN CHODER, menawarkan INANE dan Rakyatnya untuk turun kepesisir pantai, dengan tujuan agar INANE dan Rakyatnya tidak melakukan perang dan pembunuhan lagi.
Pemerintah Belanda membujuk INANE dengan memberi Besloit Raja Rimba pada Tanggal 25 Januari 1893 kepada INANE KOKORULE. Sekalipun Besloit Raja Rimba diberikan kepada INANE, namun INANE tetap menolak tawaran pemerintah Belanda untuk turun kepesisir pantai. Bukti Besloit Raja Rimba masih ada sampai sekarang. Di Yamalesi INANE KOKORULE meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya yang bernama TUALE KOKORULE (Kapitang IV) Nuweletetu Marehunu.
Pada masah kepemimpinan TUALE KOKORULE. Pemerintah Belanda kembali membujuk TUALE KOKORULE dan rakyatnya Nuweletetu Marehunu untuk turun kepesisir oleh POS HOUDER (Kepala Pemerintahan), di Amahei pada waktu itu bernama VAN HEINS, dengan menawarkan Besloit Perintah Negeri kepada TUALE, dan TUALE menerima tawaran pemerintah Belanda untuk turun ke pesisir, tempat yang ditunjuk oleh Belanda. Pada Tanggal 28 Februari 1893 TUALE KOKORULE menerima Besloit Raja. Bukti Besloit sampai saat ini masih ada. Setelah menerima Besloit, TUALE KOKORULE bersama rakyatnya turun kepesisir ditempat yang sudah ditunjuk Belanda yang bernama "LARINAMATAI" artinya Mata jalan,
Bukti keperkasaan TUALE KOKORULE dan Rakyatnya Nuweletetu Marehunu. Maka mereka disuruh tinggal dan menjaga mata jalan. Tempat Larinamatai (MATA JALAN), diganti nama oleh TUALE KOKORULE, dengan nama Nuweletetu Marehunu. Ketika TUALE KOKORULE lanjut usia la menunjuk anaknya TELEAM KOKORULE untuk menggantinya sebagai Pemimpin (Kapitang V) Nuweletetu Marehunu. Namun setelah menunjuk TELEAM KOKORULE, la masih berumur 15 (Lima Belas) Tahun. Oleh karena itu ditunjuklah seorang Wali baginya yang bernama TUISA TUNUHURI.
TUISA TUNUHURI menjalankan pemerintahan sebagai Kepala SOA. Delapan Tahun Kemudian TELEAM KOKORULE genap berusia 23 tahun (Dua Puluh Tiga Tahun). Maka TUISA TUNUHURI, menyerahkan kembali pemerintahan kepada TELEAM KOKORULE, dan pemerintahan Belanda kembali meyerahkan Besloit Pemerintah Negeri (RAJA) Negeri Nuweletetu Marehunu. TELEAM KOKORULE Memerintah Negeri Nuweletetu Marehunu dengan Gelar "ORANG KAYA".
Pada Tahun 1914 TELEAM KOKORULE dan Rankyatnya Memeluk Agama Kristen, Protestan. Pada saat itu pula TELEAM KOKORULE di Baptis dengan nama YACOB KOKORULE oleh Seorang Guru Jemaat yang bernama YOHANIS LATUPERISSA.
Masah pemerintahan YACOB KOKORULE dari Tahun 1901-1946. 45 Tahun, setelah YACOB KOKORULE meninggal dunia pada Tahun 1946. Maka Rakyat Nuweletetu Marehunu Menunjuk MOSES TUNUHURI menjalankan pemerintahan dari Tahun 1946-1978. 32 Tahun, ditahun 1978 dibawah kepemimpinan MOSES TUNUHURI Rakyat Nuweletetu Marehunu berpindah ketempat yang bernama WAIKELE (NUELETETU). Di Waikele masyarakat Nuweletetu Marehunu menunjuk THOMAS MAALALU untuk menjalankan pemerintahan dari tahun 1979-1981. 2 Tahun, setelah itu diganti oleh ADREL JOHAN MAALALU dari tahun 1982-2001.19 Tahun
Kemudian pada tahun 2000 terjadi Tragedi Kemanusiaan di Maluku, maka masyarakat Nuweletetu Marehunu berpindah tempat dari Waikele, ke kaki Gunung "Erumele" tempat Asal Mula Leluhur mereka. Di Erumele (Nuweletetu Marehunu) masa pemerintahan ADREL JHOHAN MAALALU berakhir, dan masyarakat Nuweletetu Marehunu menunjuk JONAS KOKORULE untuk melanjutkan pemerintahan dari Tahun 2002-2003. I Tahun, setelah masa kepemimpinan JONAS KOKORULE berakhir, di ganti lagi oleh ADREL JHOHAN MAALALU dari Tahun 2003-2012. 9 Tour + 19 Tahun 28 Tahun memerintah.
Pada masa Transisi Pemerintahan Negeri Nuweletetu Marehunu. Maka atas dasar rekomendasi dari mata rumah parentah (KOKORULE) merekomendasikan kepada Drs. MATHEOS ILERI sebagai Raja Negeri Administatif Nuweletetu Marehunu dalam masa 1 (satu) Periode saja, yakni dari Tahun 2015-2021. Kemudian lewat musyawarah Negeri masyarakat memilih ADELINA KOKORULE Sebagai Raja Negeri Administartif Nuweletetu yakni tahun 2022 - Sekarang.
Catatan:
Sejarah membuktikan bahwa Daerah Lumute Sunemarelekuti, Rounesi dan sekitarnya turun ke arah Selatan Wilayah TNS Waipia adalah Hak Ulayat Masyarakat Adat Nuweletetu Marehunu.
Rounesi merupakan Dusun Damar Milik Nuwelwtetu Marehunu.
Bukti Syair:
Asela Nikomisi Laripelwa Rounesio
Asela Nikomisi Laripelwa Rounesio
Artinya:
Asela Seorang Pengintai Nuweletetu Marehunu Berjalan Mengelilingi Tempat ini, dan MenemuiDusun Damar.
WARAMINA
Waramina adalah tempat dimana terjadi pembunuhan terhadap keluarga MAIIIIMA dari Makariki oleh dua orang dari Nuweletetu Marehunu.
Hanya dikarenakan harga seekor Burung Kasturi Kepala Hitam, yang tidak dibayar tepat waktu sesuai janji.
Ketika saat pembunuhan dilakukan keluarga MAIRIMA sedang Memangkul Sagu, lantas pelaku pembunuhan ini katakan kepada temanya pada saat itu:
ATULU LOLAU UHIU UKILISATE YENA.
Artinya Tunggu Beta Ambil Batu ller (GOSO) dulu, padahal bukan Ambil Batu Jler (Goso), tetapi pergi dan membunuh Bapak MAIRIMA yang sedang Memangkul Sagu.
Dengan peristiwa atau kejadian ini Nuweletetu Marehunu mengangkat Pela Darah dengan Marga MAIRIMA di Makariki sampai sekarang ini, hingga Orang Nuweletetu Marehunu dan Marga MAIRIMA tidak bisah saling mengawini. Tempat kejadian perkara sampai sekarang dikenal dengan nama/sebutan WARAWARA (WARAMINA) artinya Tunggu Beta Dulu. Jadi tempat yang bernama Waramina yang sekarang dikenal dengan nama WARAWAILA adalah hak Ulayat Nuweletetu Marehunu
UKELA HEINAΚΑ
UKELA HEINAKA adalah Hak Ulayat Milik Masyarakat Adat Nuweletetu Marehunu, oleh karena itu mereka selalu lalu lalang di tempat ini untuk melakukan aktifitas seperti berburuh dan berkebun. Tidak dapat disangkal bahwa tempat ini setiap saat ada jumpa diantara mereka (Masyarakat Nuweletetu Marehunu) walau hanya sepintas lalu. Karena mereka sering (selalu) jumpa tanpa disadari kata sapaan/selamat yang mereka gunakan adalah UKELA HEINAKA artinya "Bagaimana Teman", akhirnya tempat ini mereka namakan Ukela Heinaka sampal sekarang tempat ini dikenal dengan sebutan SAKELA asal kata dari Ukela (Teman).
Pada masa kejayaan Nuweletetu Marehunu, Wilayahnya tidak dapat dimasuki sembarangan oleh orang orang dari luar tanpa seijin Kapitang mereka. Hanya di Ukela Heinakan (SAKELA) sekarang, orang yang diperbolehkan masuk berburuh dan berkebun diwilayah ini adalah Marga SOLOFUEI (Suku Mani) dari Samasuru. Pada masa itu marga yang bertemu dengan marga Solofuei di Ulkela Heinaka (Sakela) sekarang adalah Marga KAMAMA dari Nuaulu dibuktikan dengan syair
TAALA WAKAI TAALA SAHAE
VISILANE WAKAI VILANE SAHAE
ULAKAI NAE USEE
ULEU LOWEI SUE AMAMU
LUAKU MAHONO TANAILE
Lewat Syair Adat Ini Marga Solofuei katakan kepada marga Kamama yang artinya:
OSE LIHAT, KILAT APA DISANA DAN GUNTUR APA DISANA OSE KESANA DENGAN OSE PUNYA KEPERKASAAN, KALAU OSE BERHASIL, OSE KEMBALI BAWAH KEPALA BUAT BAPAK (MARGA SOLOFUED) DAN KATONG DUA (MARGA) RAME-RAME (PESTA).
Ternyata marga Kamama (Nuaulu) kembali tidak membawah Kepala braut Marga Solofuel. Akhirnya marga Solofuel memutuskan bahwa marga Kamama (Numulu) boleh tinggal sementara di Ukela Heinaka (Sakela) sekarang dan memakan Sagu di Dusun ini. Tetapi apabila orang yang punya tanah ini (Nuweletetu Marehunu) datang, kamu harus kembalikan Dusun Sagu ini kepada mereka, karena mereka yang mempunyai tanah. Kemudian Marga Solofuel, meninggalkan Ukela Heinaka (Sakela) sekarang, dan pulang ke Negeri Samasuru sekarang
Namun tempat-tempat tersebut diatas, Negeri Waraka, Sepa, dan Nuaulu masih mengklaim bahwa itu adalah Hak Ulayat milik mereka, tampah menunjukan data perjalanan sejarah yang jelas.
Kebenaran selalu berbicara serta membuktikan, dimana waktu kehilangan seorang anggota POLIES Maluku Tengah pada Tahun 2007, di Daerah Lumute Km 34. Negeri Sepa, Nuaulu dan Waraka yang selalu mengatakan Lumute adalah Hak Ulayat milik mereka masing-masing Negeri menggelar Upacara Adat taruh Tempat Sirih Pinang. Namun tidak membuahkan hasil, Korban Anggota POURES tersebut tidak ditemui.
Selang waktu berapa hari kemudian, POLRES Maluku Tengah menerima Informasi dari seorang Tua Negeri Warloin yang bernama HERMANUS HAIKUTI, bahwa daerah Lumute adalah Hak Ulayat milik Nuweletetu Marehunu yang sebenarnya. Maka POLRES Maluku Tengah menemul Tuan Tanah dan Tokoh Adat Negeri Nuweletetu Marehunu yang bernama :
FERDINAN MAALALU dan
JONAS KOKORULE
Untuk menggelar lagi Upacara Adat Taruh Sirih Pinang, setelah selesal dilakukan, ternyata dalam waktu yang singkat, Mayat Anggota POLRES tersebut ditemukan di wilayah Lumute Km 62, yang berjarak ±28 Km dari tempat kejadian Perkara (TKP) Lumute Km 34.
Dengan penemuan Mayat Anggota POLRES tersebut, Maka dengan sendirinya POLRES Maluku Tengah pada saat itu mengakui bahwa Pemilik sebenarnya Wilayah Lumute adalah Negeri Nuweletetu Marehunu.
Batas Wilayah Nuweletetu Marehunu dan Nuaulu
Batas Nuaulu di Kepala Air NUA dengan bahasa disebut "SININA WAIRUSI"
Batas Nuweletetu Marehunu diantara Sungai NUA dan Sungal ATAUW, dengan Bahasa "SININA MAREHUNU".